Ketikjari.com – PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau ITDC resmi kembali menyandang status Persero efektif sejak 10 Juni 2026.
Penguatan status tersebut menjadi tonggak penting bagi perusahaan pelat merah itu dalam mempercepat pengembangan destinasi pariwisata unggulan nasional, termasuk The Mandalika di Nusa Tenggara Barat, yang kini semakin diproyeksikan menjadi magnet investasi dan destinasi kelas dunia.
Sebagai BUMN yang berada di bawah naungan Holding BUMN Pariwisata dan Pendukung, InJourney, ITDC mengemban peran strategis sebagai master developer dan asset manager dalam pengembangan kawasan pariwisata nasional. Kembalinya status Persero dinilai akan memperkuat fondasi kelembagaan perusahaan dalam menjalankan mandat tersebut secara lebih optimal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Plt Direktur Utama ITDC, Ahmad Fajar, menegaskan bahwa perubahan status ini bukan sekadar perubahan nomenklatur perusahaan, melainkan penguatan peran strategis ITDC dalam mendukung pembangunan nasional melalui sektor pariwisata.
“Kembalinya status Persero semakin mempertegas peran ITDC sebagai BUMN yang memiliki mandat strategis dalam mengembangkan destinasi pariwisata kelas dunia sekaligus mengoptimalkan pengelolaan aset negara melalui pendekatan yang profesional dan berkelanjutan,” ujar Ahmad Fajar dalam keterangannya, Selasa (23/6/2026).
Menurutnya, dengan tata kelola yang semakin kuat, ITDC akan terus mendorong pengembangan kawasan yang mampu menarik investasi, menciptakan peluang usaha, membuka lapangan kerja, serta memberikan manfaat ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat dan daerah.
Saat ini ITDC mengelola tiga kawasan pariwisata unggulan nasional, yakni The Nusa Dua di Bali seluas sekitar 350 hektare, The Mandalika di Nusa Tenggara Barat seluas sekitar 1.175 hektare, serta The Golo Mori di Nusa Tenggara Timur seluas sekitar 20 hektare.
Bagi Nusa Tenggara Barat, penguatan status Persero menjadi kabar positif bagi percepatan pengembangan The Mandalika yang selama beberapa tahun terakhir telah menjelma menjadi ikon pariwisata Indonesia di mata dunia. Kawasan yang menjadi tuan rumah berbagai ajang internasional tersebut terus berkembang sebagai pusat sport tourism, leisure tourism, hingga investasi sektor hospitality.
Dengan status Persero yang kembali melekat, ITDC memiliki ruang yang lebih kuat untuk mempercepat pembangunan infrastruktur kawasan, meningkatkan kepercayaan investor, memperluas kerja sama bisnis, serta mengoptimalkan pengelolaan aset negara guna menciptakan nilai ekonomi jangka panjang.
Ahmad Fajar optimistis penguatan status tersebut akan semakin meningkatkan kepercayaan para investor dan mitra usaha terhadap proyek-proyek strategis yang dikelola ITDC.
“Kami optimistis langkah ini akan semakin meningkatkan kepercayaan investor, mitra usaha, dan para pemangku kepentingan, sehingga mampu memperluas dampak ekonomi yang dihasilkan dari setiap kawasan yang kami kembangkan dan kelola,” katanya.
Perubahan status tersebut juga sejalan dengan agenda transformasi BUMN yang terus didorong pemerintah melalui penguatan tata kelola perusahaan, optimalisasi aset negara, serta penciptaan nilai ekonomi yang berkelanjutan. Dengan landasan kelembagaan yang semakin kokoh, ITDC diyakini mampu mempercepat terwujudnya destinasi pariwisata berkelas dunia yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Ke depan, ITDC menegaskan komitmennya untuk terus mengedepankan prinsip Good Corporate Governance (GCG), inovasi, serta keberlanjutan dalam setiap pengembangan kawasan. Melalui langkah tersebut, perusahaan berharap dapat menciptakan kawasan pariwisata yang kompetitif, inklusif, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, daerah, serta negara.
Kembalinya status Persero menandai babak baru bagi ITDC. Di tengah semakin ketatnya persaingan industri pariwisata global, perusahaan kini memiliki fondasi yang lebih kuat untuk mempercepat transformasi destinasi unggulan Indonesia menuju panggung dunia.





















