Ketikjari.com – PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) kembali meraih apresiasi atas komitmennya dalam memperkuat tata kelola perusahaan, manajemen risiko, dan kepatuhan sebagai bagian dari transformasi bisnis perusahaan.
Dalam ajang TOP GRC Awards 2026 yang digelar di Ballroom 5 Hotel Raffles Jakarta, Rabu (9/9/2026), ITDC berhasil memboyong tiga penghargaan sekaligus.
Ketiga penghargaan tersebut yakni TOP GRC Awards 2026 – #4 Star, The High Performing Board of Commissioners on GRC 2026, serta The Most Committed GRC Leader 2026 yang diberikan kepada Plt. Direktur Utama ITDC, Ahmad Fajar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Penghargaan tersebut diterima oleh Komisaris Independen ITDC, Ekos Albar, yang hadir mewakili perusahaan.
Capaian ini menjadi bentuk apresiasi terhadap langkah ITDC dalam membangun penerapan Governance, Risk Management, and Compliance (GRC) yang semakin terintegrasi dengan strategi, proses bisnis, pengawasan, hingga pengambilan keputusan perusahaan.
Komisaris Independen ITDC, Ekos Albar, mengatakan penguatan GRC membutuhkan komitmen bersama antara Dewan Komisaris, Direksi, dan seluruh insan perusahaan.
“Penghargaan ini menjadi apresiasi sekaligus motivasi bagi kami untuk terus memperkuat tata kelola perusahaan. GRC tidak boleh berhenti sebagai sistem pengawasan dan kepatuhan, tetapi harus menjadi budaya yang melekat dalam proses bisnis dan pengambilan keputusan,” ujar Ekos Albar.
Menurutnya, Dewan Komisaris akan terus mendorong penguatan fungsi pengawasan dan manajemen risiko agar ITDC dapat menjalankan perannya sebagai master developer dan asset manager secara prudent, adaptif, dan berkelanjutan.
GRC Tak Sekadar Compliance
Plt. Direktur Utama ITDC, Ahmad Fajar, menegaskan meningkatnya skala dan kompleksitas bisnis perusahaan menuntut GRC tidak hanya ditempatkan sebagai mekanisme pengendalian, tetapi juga menjadi bagian dari business judgement dalam setiap keputusan strategis.
Saat ini ITDC mengembangkan dan mengelola tiga kawasan pariwisata dengan karakteristik berbeda, yakni The Nusa Dua di Bali, The Mandalika di Nusa Tenggara Barat, dan The Golo Mori di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.
Sebagai master developer dan asset manager, ITDC tidak hanya bertanggung jawab mengembangkan kawasan dan infrastruktur, tetapi juga mengelola aset serta membangun ekosistem bisnis dan pariwisata di dalamnya.
“Bagi ITDC, GRC bukan sekadar compliance. GRC adalah fondasi dalam mengambil keputusan bisnis yang tepat, melindungi perusahaan dari risiko, sekaligus membantu kita melihat peluang dan menciptakan nilai,” kata Ahmad Fajar.
Ia menegaskan, GRC harus hadir sejak strategi dirumuskan, risiko diidentifikasi, keputusan dibuat, hingga implementasi dan kinerja perusahaan dievaluasi.
Penerapan tersebut diwujudkan melalui Integrated GRC, antara lain dengan menerapkan RKAP berbasis risiko, Risk Appetite Statement, Rapat Direksi dan Forum Manajemen Risiko, serta memperkuat fungsi komite yang mendukung pengawasan dan pengendalian perusahaan.
Bangun Budaya GRC dari Pimpinan
Ahmad Fajar menilai keberhasilan penerapan GRC pada akhirnya sangat bergantung pada tone from the top, keteladanan pimpinan, serta konsistensi perusahaan dalam membangun awareness dan pembelajaran di lingkungan organisasi.
Menurutnya, GRC tidak cukup hanya dituangkan dalam kebijakan, prosedur maupun forum pengawasan. Prinsip tersebut harus menjadi bagian dari cara perusahaan menentukan prioritas, menilai risiko dan peluang, serta mengambil keputusan bisnis.
“Penghargaan bukan tujuan akhirnya. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita membangun sistem GRC yang kuat dan berkelanjutan, sehingga GRC menjadi budaya dan tetap bekerja dalam setiap proses pengambilan keputusan perusahaan. Itulah legacy yang ingin kita bangun,” tegasnya.
Bagi ITDC, keberhasilan penerapan GRC tidak semata-mata diukur dari tingkat kepatuhan terhadap prosedur. Lebih dari itu, GRC diharapkan mampu mendukung pengambilan keputusan bisnis yang lebih baik, meningkatkan kinerja dan efisiensi, melindungi aset, serta menciptakan nilai jangka panjang bagi perusahaan dan seluruh pemangku kepentingan.
Pendekatan tersebut sejalan dengan upaya ITDC menjadikan GRC sebagai enabler bagi pertumbuhan bisnis yang sehat, adaptif, dan berkelanjutan.
Prinsip tersebut dirangkum ITDC melalui pendekatan:
Protect Value. Create Value. Sustain Value.
Yakni melindungi nilai perusahaan melalui tata kelola dan pengelolaan risiko yang baik, menciptakan peluang dan kinerja baru melalui keputusan bisnis yang berkualitas, serta memastikan nilai tersebut terus tumbuh dan dipertahankan secara berkelanjutan.





















