Kesadaran Besama Kunci Penanganan Konflik di Kabupaten Bima

- Kontributor

Selasa, 4 Maret 2025 - 06:55

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketikjari.com- Forum Pemuda Pemerhati Sosial (FPPS) NTB menggelar dialog penanganan konflik di Kabupaten Bima, Jumat (28/2/2025). Kegiatan dialog berlangsung di Aula PGRI Cabang Kabupaten Bima.

Peserta dialog sebanyak 200 orang dari sejumlah elemen masyarakat dan institusi terkait. Hadir dalam kesempatan itu, Kepala Badan Kesbangpoldagri Kabupaten Bima, Drs Syahrul M.Si, Kasat Binmas Polres Bima, Iptu Sumardin, Danposramil Belo, Mukhtar, perwakilan kepala desa di Kabupaten Bima, perwakilan Babinsa, serta pengurus FPPS NTB.

Ketua pelaksana kegiatan Fikriyadin mengatakan, di Kabupaten Bima sering terjadi konflik sosial sehingga bisa berdampak pada sejumlah sektor. Dia berharap dialog ini bisa memberikan kesadaran kepada masyarakat sehingga tidak terlibat konflik.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kegiatan ini diharapkan dapat terlaksana dengan baik dan bisa menghasilkan solusi dalam penangan konflik yang sering terjadi di Bima,” katanya dalam sambutan.

Di tempat yang sama, Kepala Badan Kesbangpoldagri Kabupaten Bima, Syahrul menegaskan tidak semua orang menginginkan terjadinya konflik, namun kadangkala kondisi itu tidak bisa dihindari karena adanya perbedaan pandangan atau kepentingan.

“Konflik sosial ini dipicu dari berbagai macam latar belakang baik konflik lahan antara masyarakat dengan perusahaan maupun masyarakat dengan masyarakat dalam desa yang bertetangga,” paparnya.

Baca Juga :  Nomor HP Dihack,Bupati Pathul Minta Masyarakat Jangan Percaya

Menurut Kaban, konflik yang terjadi selama ini masih dapat diredam oleh pemerintah dan aparat keamanan. Termasuk konflik etnis juga pernah terjadi di Kabupaten Bima seperti, konflik antara warga Sumba yang bermukim di Desa Tente dengan warga lokal. Maka dari itu, penanganan konflik merupakan tanggung jawab bersama. Seringkali munculnya konflik berawal dari kenakalan remaja sehingga meluas melibatkan masyarakat.

“Dalam penanganan sosial di wilayah Bima perlu ada kedewasaan dan dilakukan mediasi sehingga ada solusi terbaik,” tegasnya.

Danposramil Belo, Serka Mukhtar menambahkan pada dasarnya konflik di desa seringkali dipicu karena kenakalan remaja, sehingga perlu peran serta masyarakat untuk membimbing anaknya serta ikut mengawasi anaknya.

“Kemudian tidak adanya kontrol dari orangtua termasuk sering keluar malam. Kemudian bergaul dan berteman dengan kelompok kriminal smpai dengan dampak dari ketergantungan narkoba,” ujarnya.

Ditambahkannya, konflik di desa lebih banyak melibatkan siswa. Kemudian masalah tersebut juga berimbas ke kampung sampai pada aksi pemblokiran jalan.

“Perlu adanya penegakan hukum yang jelas terhadap para pelaku. Sehingga tidak menimbulkan persepsi di masyarakat terhadap ketidaktegasan aparat keamanan,” ungkapnya.

Baca Juga :  Sekda Lalu Firman Hadiri Pawai Ta,aruf STQH Ke-XXVIII dan Festival Lasqi Nusantara Jaya

Kasat Binmas Polres Bima, Iptu Sumardin menuturkan untuk penanganan konflik sudah sering dilakukan aparat keamanan. Misalnya, terkait konflik antara Desa roka dan Desa Runggu Kecamatan Belo. Konflik yang sering terjadi di Bima lebih banyak konflik antara individu, konflik dalam keluarga serta konflik dalam kelompok atau komunitas.

“Kemudian juga ada konflik antar etnis yang melibatkan antara kelompok etnis Sumba yang ada di Bima dengan warga lokal. Konflik tersebut cepat diredam karena adanya komunikasi yang baik,” bebernya.

Ditambahkan Camat Belo, Ruyani perlu upaya serius dalam melakukan pemberantasan Narkoba dan miras di tengah masyarakat karena seringkali memicu terjadinya konflik.

“Bahwa langkah antispasi dalam mencegah konflik pihaknya berharap agar aparat keamanan dapat memberikan pengamanan terhadap kegiatan sosial seperti acara hiburan,” katanya.

Selain itu, kata dia, perlu adanya penertiban masyarakat yang sering membawa senjata tajam atau senpi rakitan yang ada setiap desa.

“Serta perlu adanya penertiban terhadap aset daerah, jangan sampai ada aset milik daerah dikelola secara pribadi atau dijual belikan oleh oknum pejabat. Sebab dapat memicu adanya konflik dengan masyarakat,” sentilnya.

Berita Terkait

Kajari Lombok Tengah Buka Ruang Komunikasi dengan Pers,Materi Penyidikan Tetap Terbatas
Bupati Pathul Terima Silaturahmi Karutan Praya, Perkuat Sinergi Pemasyarakatan
Perkuat Deteksi Dini, Rutan Praya Gelar Razia Kamar Hunian
Hari Kedua Pencarian, Nelayan Hilang di Perairan Areguling Ditemukan Meninggal Dunia
Satpol PP Lombok Tengah Tertibkan Aktivitas Konsumsi Tuak di Sejumlah Lokasi Praya
ITDC Koordinasikan Dukungan BUMN dan Ekosistem The Mandalika untuk Pemulihan Kampung Adat Sade
Razia Perdana,Karutan Baru Pastikan Blok Hunian Rutan Praya Tetap Aman dan
217 Narapidana Rutan Praya Terima Remisi HUT RI Ke-81

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 06:04

The Mandalika Bersiap Sambut MotoGP, ITDC dan Polda NTB Matangkan Pengamanan

Selasa, 22 September 2026 - 08:04

Hadapi Mobilitas Besar MotoGP 2026,ITDC Matangkan Sistem Keselamatan Sirkuit

Minggu, 20 September 2026 - 13:33

Road to Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026, Pertamina dan ITDC Gelar Watch Party AustrianGP 2026 di Yogyakarta

Jumat, 18 September 2026 - 12:14

MotoGP 2026, InJourney Siapkan 66 Extra Flight dan Camping Ground di Mandalika

Kamis, 17 September 2026 - 14:35

Jelang MotoGP 2026, InJourney dan Pemprov NTB Pastikan Kesiapan Pariwisata hingga Sirkuit Mandalika

Kamis, 17 September 2026 - 01:47

Betabeq, Kearifan Lokal Sasak yang Mengiringi Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026

Rabu, 16 September 2026 - 13:39

Jelang MotoGP 2026, Sirkuit Mandalika Tingkatkan Kesiapan Teknis dan Keselamatan

Rabu, 16 September 2026 - 13:34

ITDC Perkenalkan The Mandalika dan MotoGP 2026 di Indonesia Sport Summit

Berita Terbaru