Perjuangan Mario Aji dan Veda Pratama, Dari Latihan Sepulang Sekolah hingga Panggung Dunia di Mandalika

- Kontributor

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 06:06

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketikjari.com – Perjalanan menuju panggung balap dunia tidak diraih dengan mudah. Dua pembalap kebanggaan Indonesia, Mario Suryo Aji dan Veda Ega Pratama, harus melewati latihan sejak kecil, menghadapi cedera, hingga mengorbankan waktu bersama keluarga demi mewujudkan mimpi menjadi pembalap profesional.

Kini, perjuangan panjang tersebut membawa keduanya tampil di hadapan publik Tanah Air dalam ajang Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada 9–11 Oktober 2026.

Mario bersaing di kelas Moto2™, sedangkan Veda berlaga di kelas Moto3™. Kehadiran keduanya menjadi bukti perjuangan talenta Indonesia untuk menembus persaingan balap motor dunia.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kisah mereka juga menjadi bagian dari semangat Indonesian Heroes, yang mengangkat sosok inspiratif dengan keberanian bermimpi, kerja keras, dan keteguhan menghadapi tantangan.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Mario telah menjalani rutinitas latihan fisik yang disiplin. Sepulang sekolah, saat teman-temannya menggunakan angkutan umum, ia justru berlari sebagai bagian dari latihan yang disiapkan sang ayah.

“Dari kelas satu sampai kelas enam SD, sering latihan. Setiap kali dijemput sama ayah, sudah disiapkan baju lari. Jadi pulang sekolah, yang lain naik angkot, saya lari,” ujar Mario.

Kedisiplinan tersebut menjadi salah satu bekal penting dalam perjalanan kariernya hingga menembus kejuaraan dunia Moto2™.

Meski telah menjadi pembalap profesional, Mario mengaku masih menganggap balapan sebagai hobi yang ditekuni dengan serius.

“Sampai sekarang Mario masih merasakan balapan itu hobi, tapi lebih ditekuni saja. Kalau kita menganggap balapan sebagai pekerjaan, kan menjadi beban. Jadi mungkin dari beban itu kita tidak bisa perform. Sampai sekarang masih Mario hitung hobi,” katanya.

Sementara itu, perjalanan Veda Ega Pratama dimulai dari dunia motocross. Pembalap asal Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, tersebut telah mengikuti berbagai kejuaraan nasional sejak berusia sekitar tujuh tahun.

Baca Juga :  Jelang MotoGP 2026, ITDC Perkuat Keamanan dan Layanan The Mandalika

Pada 2018, Veda beralih ke balap nasional road race, sebelum melanjutkan kiprahnya ke tingkat Asia pada 2021.

Namun, perjalanan menuju kejuaraan dunia Moto3™ tidak selalu berjalan mulus.

Pada 2020, pandemi Covid-19 membuat rencana kompetisinya terhenti. Di tengah situasi tersebut, Veda mengalami patah tulang paha. Sekitar empat bulan kemudian, ia kembali mengalami cedera patah tulang kering.

Kondisi itu sempat membuatnya meragukan masa depannya sebagai pembalap.

“Di situ aku sudah seperti berpikir tidak bisa balap,” kenangnya.

Meski demikian, Veda berhasil bangkit dan melanjutkan perjalanan hingga mencapai kejuaraan dunia Moto3™. Dukungan orang tua menjadi salah satu kekuatan yang membantunya melewati masa sulit tersebut.

“Orang tua saya semuanya mendukung,” ujar Veda.

Veda mengakui bahwa keraguan mengenai kemampuannya mencapai target tertinggi terkadang masih muncul. Namun, ia tetap bertekad berusaha maksimal untuk mewujudkan mimpinya.

“Pastinya ada dan sampai sekarang pun masih bertanya-tanya kepada diri sendiri, apakah bisa,” katanya.

“Itu mimpi saya. Jadi saya akan berusaha semaksimal mungkin dan kalau memang bisa, ya alhamdulillah.”

Tantangan serupa juga dialami Mario. Ia mengungkapkan bahwa cedera yang berulang menjadi salah satu fase paling berat sepanjang kariernya.

“Setiap tahun hampir cedera,” ujar Mario.

Ketika menghadapi masa sulit, Mario memilih melakukan refleksi diri sebelum berbagi cerita dengan orang lain. Baginya, memahami persoalan dan mencari hal yang perlu diperbaiki merupakan bagian penting untuk kembali bangkit.

Pengalaman Mario dan Veda menunjukkan bahwa perjalanan atlet profesional bukan hanya tentang kecepatan, kemenangan, atau podium. Ada perjuangan fisik dan mental yang harus dilalui untuk tetap bertahan di tengah ketatnya persaingan.

Kesibukan mengikuti kompetisi internasional membuat Mario dan Veda harus mengorbankan banyak waktu bersama keluarga dan teman-teman.

Mario mengaku sejak kecil waktunya lebih banyak dihabiskan untuk latihan dan kompetisi. Bahkan, ia harus melewatkan sejumlah momen penting bersama keluarga, termasuk perayaan Lebaran.

Baca Juga :  MGPA dan ITDC Gelar Audiensi dengan BPS NTB:Bahas Pertumbuhan Ekonomi Dampak Event The Mandalika

“Dari kecil waktu saya sudah habis untuk latihan, jauh dari rumah. Setiap ada family occasion, kumpul, Lebaran, dan lain-lain, saya sudah tahun kelima tidak pulang,” ungkapnya.

Veda juga merasakan hal serupa. Kesibukan balap membuatnya tidak bisa menjalani masa sekolah dan kehidupan remaja seperti kebanyakan anak seusianya.

“Tidak bisa seperti murid-murid atau anak muda lainnya. Kita jarang masuk sekolah, lebih banyak online. Masa-masa kecil yang biasanya anak-anak lakukan, seperti bertemu teman dan lain-lain, kita jarang,” katanya.

Keluarga, teman-teman, dan makanan Indonesia menjadi hal yang paling dirindukan Veda ketika berada jauh dari Tanah Air.

Pengorbanan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang keduanya untuk menjaga konsistensi dan meningkatkan kemampuan agar mampu bersaing di tingkat dunia.

Kehadiran Mario Suryo Aji dan Veda Ega Pratama di Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 menjadi momentum bagi masyarakat untuk memberikan dukungan langsung kepada pembalap Indonesia yang berkompetisi di panggung internasional.

Melalui semangat The Rise of Local Heroes dan #IndonesiaMendunia Bersama Pertamina, ajang balap dunia di Mandalika tidak hanya menjadi tontonan olahraga, tetapi juga ruang untuk mengapresiasi perjuangan atlet nasional.

Dukungan masyarakat diharapkan menjadi tambahan semangat bagi Mario di kelas Moto2™ dan Veda di kelas Moto3™ saat menghadapi persaingan di lintasan.

Kehadiran keduanya sekaligus memperkuat peran Mandalika sebagai destinasi penyelenggaraan olahraga internasional dan bagian dari perkembangan motorsport Indonesia.

Perjalanan Mario dan Veda menjadi inspirasi bagi generasi muda bahwa mimpi besar membutuhkan kedisiplinan, pengorbanan, dukungan keluarga, serta keberanian untuk bangkit ketika menghadapi kegagalan.

Dari latihan sepulang sekolah hingga berlaga di kejuaraan dunia, keduanya membuktikan bahwa talenta Indonesia memiliki kesempatan untuk bersaing di panggung internasional melalui kerja keras dan perjuangan berkelanjutan.

Di Mandalika, Mario Aji dan Veda Pratama bukan sekadar pembalap yang berlaga. Keduanya menjadi representasi Indonesian Heroes yang membawa harapan dan kebanggaan Indonesia ke panggung dunia.

Berita Terkait

400 Marshal Lokal Kawal MotoGP Mandalika 2026, 946 Personel Disiapkan Layani Penonton
Lima Pembalap Moto2 dan Moto3 Sapa Siswa SDN 2 Kuta Mandalika, Bawa Semangat #IndonesianHeroes
Parade MotoGP Mataram Dibanjiri Penggemar, Marc Márquez dan Veda Ega Pratama Turut Hadir
Jelang MotoGP Mandalika 2026,Transportasi Laut Jadi Alternatif Akses Menuju Lombok
Jelang MotoGP 2026, Bupati Lombok Tengah Imbau Pengelola Destinasi Tingkatkan Pelayanan Wisatawan
Tinggal Hitungan Hari, Kaos Bergambar Pembalap Moto3 Asal Indonesia Diburu Pembeli
2.000 Lebih Volunteer MotoGP Mandalika 2026 Dapat Perlindungan JKK dan JKM
Deretan Artis Siap Meriahkan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Mandalika

Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 06:06

Perjuangan Mario Aji dan Veda Pratama, Dari Latihan Sepulang Sekolah hingga Panggung Dunia di Mandalika

Jumat, 9 Oktober 2026 - 08:32

400 Marshal Lokal Kawal MotoGP Mandalika 2026, 946 Personel Disiapkan Layani Penonton

Kamis, 8 Oktober 2026 - 10:14

Lima Pembalap Moto2 dan Moto3 Sapa Siswa SDN 2 Kuta Mandalika, Bawa Semangat #IndonesianHeroes

Rabu, 7 Oktober 2026 - 02:54

Jelang MotoGP Mandalika 2026,Transportasi Laut Jadi Alternatif Akses Menuju Lombok

Selasa, 6 Oktober 2026 - 10:09

Jelang MotoGP 2026, Bupati Lombok Tengah Imbau Pengelola Destinasi Tingkatkan Pelayanan Wisatawan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 10:08

Tinggal Hitungan Hari, Kaos Bergambar Pembalap Moto3 Asal Indonesia Diburu Pembeli

Selasa, 6 Oktober 2026 - 10:06

2.000 Lebih Volunteer MotoGP Mandalika 2026 Dapat Perlindungan JKK dan JKM

Senin, 5 Oktober 2026 - 23:33

Deretan Artis Siap Meriahkan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Mandalika

Berita Terbaru