Ketikjari.com – Riuh mesin dan semangat emansipasi akan berpadu di ajang Mandalika Kartini Race 2026. Di antara deretan pembalap wanita yang siap unjuk gigi, satu nama tampil berbeda: duet ibu dan anak, Vivit Fariana dan Patricia Revalina Purnomo.
Keduanya bukan sekadar peserta. Mereka adalah simbol keberanian melampaui batas—dari lintasan tanah menuju aspal cepat dan teknis di Pertamina Mandalika International Circuit, 1–3 Mei 2026.
Selama ini, Vivit dan Patricia dikenal piawai menaklukkan lintasan gravel melalui drag race dan rally. Namun Mandalika menghadirkan tantangan berbeda: sirkuit berstandar internasional dengan tikungan teknis dan kecepatan tinggi yang menuntut presisi maksimal..
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ini pertama kali kami ikut race di Mandalika, dan rasanya seru banget. Ini pengalaman baru buat kami,” ujar Patricia, penuh semangat.
Peralihan dari gravel ke aspal bukan perkara mudah. Grip ban, racing line, hingga manajemen kecepatan menjadi tantangan baru. Tapi justru di situlah adrenalin mereka terpacu.
“Biasanya kita main di gravel, sekarang coba di sirkuit Mandalika karena seru banget,” tambah Vivit.
Namun lebih dari sekadar adu cepat, kehadiran mereka membawa pesan yang lebih besar: motorsport adalah ruang yang terbuka untuk semua, termasuk perempuan.
“Motorsport itu bukan cuma buat cowok. Siapa saja boleh, selama punya minat dan keberanian,” tegas Vivit.
Pesan ini terasa relevan di tengah masih minimnya pembalap perempuan di dunia balap nasional. Lewat ajang ini, Vivit dan Patricia ingin menginspirasi lebih banyak perempuan untuk berani mencoba—tentunya di tempat yang aman dan profesional, bukan di jalan umum.
Atmosfer Mandalika Kartini Race 2026 pun menjadi momentum penting. Bukan hanya menghadirkan kompetisi, tetapi juga membuka ruang lahirnya talenta-talenta baru.
Bagi penonton, kehadiran duet ibu-anak ini menjadi daya tarik tersendiri. Ada cerita, ada emosi, dan tentu saja aksi di lintasan yang tak kalah sengit.
“Buat teman-teman, ayo datang dan nonton langsung di Mandalika tanggal 1–3 Mei. Kita bakal balapan bareng cewek-cewek hebat lainnya,” ajak Patricia.
Dukungan pun datang dari Direktur Utama Mandalika Grand Prix Association, Priandhi Satria. Ia menilai kehadiran pembalap perempuan, termasuk Vivit dan Patricia, menjadi sinyal positif bagi perkembangan motorsport nasional.
“Kehadiran mereka menunjukkan bahwa dunia balap semakin inklusif. Mandalika adalah panggung yang tepat untuk menampilkan talenta perempuan Indonesia,” ujarnya..
Lebih jauh, ia menegaskan komitmen untuk terus menghadirkan event yang tak hanya kompetitif, tetapi juga membuka peluang luas bagi semua kalangan.
“Melalui ajang seperti ini, kami ingin mendorong lahirnya lebih banyak pembalap wanita sekaligus memperkuat Mandalika sebagai destinasi sport tourism kelas dunia,” pungkasnya.
Di lintasan Mandalika, Vivit dan Patricia bukan hanya memburu waktu tercepat. Mereka sedang menorehkan cerita—tentang keberanian, tentang mimpi, dan tentang perempuan yang berani melaju kencang menembus batas.




















