Ketikjari.com – Kolaborasi antar badan usaha milik negara (BUMN) kembali diperkuat melalui kerja sama PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) dan InJourney Tourism Development Corporation (ITDC). Sinergi tersebut ditandai dengan peluncuran rebranding Masjid Nurul Bilad di kawasan Kuta Mandalika, Lombok Tengah, Sabtu (10/10/2026).
Kolaborasi ini tidak hanya berfokus pada pembaruan identitas masjid, tetapi juga peningkatan fasilitas ibadah untuk memberikan kenyamanan bagi masyarakat, jamaah, dan wisatawan yang berkunjung ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika.
Plt Direktur Utama ITDC, Ahmad Fajar, mengatakan kerja sama tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat sinergi BUMN, khususnya dalam mendukung kebutuhan sosial dan spiritual masyarakat di Nusa Tenggara Barat (NTB).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, Lombok yang dikenal sebagai Pulau Seribu Masjid memiliki potensi besar untuk mengembangkan pariwisata yang tidak hanya mengedepankan keindahan alam, tetapi juga memberikan ruang bagi wisata religi dan penguatan nilai-nilai keagamaan.
“Yang pertama adalah kolaborasi antara BUMN. Kedua, dalam rangka memperkuat hubungan sosial dan spiritual, tentunya kita perlu ada bank yang mendampingi. Kebetulan kalau masjid, cocoknya tentu lebih syariah, apalagi NTB terkenal sebagai daerah Seribu Masjid,” ujar Ahmad Fajar.
Ia menjelaskan, kontribusi BSI terhadap Masjid Nurul Bilad tidak berhenti pada pemasangan logo atau pembaruan identitas visual. Kerja sama tersebut juga mencakup pembenahan sejumlah fasilitas untuk meningkatkan kenyamanan jamaah.
“Kontribusi BSI ini baru awal. Ada logo, kemudian karpet dan perbaikan bagian penutup atas. Jadi, setelah berwudu, jamaah tidak lagi kepanasan atau kehujanan karena sudah ditutup dengan baik,” jelasnya.
Ahmad Fajar berharap kolaborasi tersebut dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan Mandalika.
Ia menekankan bahwa keberadaan masjid juga membutuhkan peran aktif masyarakat dalam menjaga dan merawat fasilitas agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.
“Kolaborasi ini untuk kebutuhan masjid, terutama hasilnya bisa masuk ke masjid dan masyarakat. Yang kita inginkan, ke depan manfaatnya lebih banyak dirasakan masyarakat. Masjid juga harus dipelihara oleh masyarakat,” katanya.
Wakil Bupati Lombok Tengah, H. M. Nursiah, menyambut baik kolaborasi antara BSI dan ITDC tersebut. Ia menilai masjid memiliki peran strategis, tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang sosial yang dapat mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Menurut Nursiah, pemerintah daerah siap mengambil peran dalam memfasilitasi dan mengoordinasikan berbagai program kerja sama agar manfaat pembangunan di kawasan Mandalika dapat dirasakan masyarakat setempat.
Ia berharap sinergi antara pengelola kawasan dan sektor perbankan syariah mampu membuka peluang kerja, memperkuat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta mendorong pemasaran produk lokal Lombok Tengah.
“BSI punya manajemen dan keahlian untuk membangun kerja sama dengan ITDC. Masyarakat tentu berharap ada manfaatnya. Kalau ada pembangunan di kawasan ITDC, dampaknya bagi masyarakat sekitar juga harus dirasakan, termasuk tenaga kerja dan UMKM kita,” ujar Nursiah.
Menurutnya, pengembangan kawasan pariwisata perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya dirasakan oleh pelaku industri, tetapi juga warga lokal.
Sementara itu, Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk, Anggoro Eko Cahyo, menegaskan komitmen BSI untuk mendukung kebutuhan transaksi keuangan masyarakat serta wisatawan domestik maupun mancanegara di kawasan Mandalika.
Ia melihat potensi pariwisata halal di Lombok sangat besar karena ditopang kekayaan budaya lokal dan identitas keagamaan masyarakat yang kuat.
Menurut Anggoro, fasilitas ibadah yang representatif menjadi salah satu unsur penting dalam memberikan pengalaman wisata yang nyaman bagi wisatawan, sekaligus memperkuat karakter Mandalika sebagai destinasi pariwisata unggulan.
“Lombok dikenal sebagai Pulau Seribu Masjid. Kami ingin wisatawan tidak hanya berwisata di Mandalika, tetapi juga bisa merasakan bahwa Pulau Seribu Masjid ini memiliki masjid yang sangat baik di kawasan Mandalika,” ungkapnya.
Ia berharap peluncuran rebranding Masjid Nurul Bilad menjadi langkah awal untuk memperluas kontribusi BSI dalam pengembangan ekosistem ekonomi syariah, termasuk melalui kolaborasi dengan berbagai pihak.
“Mudah-mudahan dengan peluncuran rebranding masjid ini, kita bersama-sama mendorong ekonomi syariah sebagai ekonomi yang berkeadilan dan transparan,” tutup Anggoro.
Melalui kolaborasi BSI dan ITDC, Masjid Nurul Bilad diharapkan semakin nyaman digunakan sebagai fasilitas ibadah sekaligus menjadi bagian dari pengembangan pariwisata Mandalika yang memperhatikan aspek spiritual, sosial, dan ekonomi masyarakat lokal.





















